Beda Wilayah Bisa Beda Konsep

Konsep kompetisi sepak bola kasta kedua Indonesia, Liga 2, masih belum baku. Sepertinya bakal tidak seragam.

Ya, bisa jadi, untuk tim-tim yang berasal dari wilayah timur Indonesia, akan diterapkan sistem home tournament. Sementara para peserta yang berada di bagian barat Indonesia, akan menggunakan sistem home and away.

Ketua Executive Committee (Exco) PSSI Bidang Kompetisi, Yunus Nusi menuturkan, dua konsep tersebut sengaja mereka usung setelah melakukan pendekatan kawasan tanah air yang tidak sama antara wilayah barat dan timur Indonesia. “Kawasan timur adalah kepulauan dan sudah tentu akan memberatkan klub-klub di sana bila menggunakan sistem home and away,” kata Yunus.

Memang, dari hasil kajian federasi sepak bola Indonesia itu, setiap klub di wilayah timur Indonesia membutuhkan dana ratusan juta rupiah hanya untuk sekali menjalani pertandingan tandang ke kandang lawan. Dan, itu berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh mayoritas tim peserta yang berada di wilayah barat Indonesia.

Dengan begitu, Yunus mengungkapkan bahwa, mereka sudah memberikan masukan kepada PT LIB (Liga Indonesia Baru) yang tidak lain operator kompetisi untuk melihat fakta lapangan yang cukup timpang itu. “Ini semua karena kami melihat asas keadilan dari masing-masing wilayah saja. Tapi, tentu akan juga mendengar masukan dari klub juga,” jelasnya.

Sayang, tidak satupun elit PTLIB yang bisa dimintai pendapatnya terkait konsep kompetisi yang diusung oleh Exco PSSI itu. Rencananya, pembahasan format dan regulasi kompetisi yang sebelumnya dikenal dengan nama Divisi Utama ini akan dilakukan dalam manager meeting di Jakarta pada 30 Maret nanti.

Seperti yang diketahui, total ada sembilan klub peserta dari total 60 tim Liga -2 yang berasal dari wilayah timur Indonesia. Mereka adalah Celebest FC, PS Sumbawa, Persbul Buol, Yahukimo FC, Persiwa Wamena, Persifa Fak-Faka, PSBS Biak, Persigubin Gunung Bintang dan Perseka Kaimana.

Konsep home turnamen yang diusung oleh Exco PSSI tersebut ditanggapi berbeda di level klub peserta. Ya, beberapa klub di Papua mengaku sependapat dengan konsep yang ditawarkan oleh federasi itu. “Karena kalau home and away, secara otomatis biaya pengeluaran tim di timur bisa dua kali lipat dari tim-tim yang ada di barat,” kata Ketua Umum Perseka Kaimana, Rowlnad Hendrik.

Hanya saja, Rowland mengusulkan, wilayah yang harus dipercayakan menjadi tuan rumah untuk menggelar even tersebut harus daerah netral alias bukan kandang dari salah satu peserta di grup wilayah timur Indonesia. “Harus bermain di zona netral, biar tidak menguntungkan salah satu tim  peserta,” saran dia.

Di sisi lain, ada juga suara minor yang muncul terkait konsep home turnamen untuk tim-tim asal Indonesia bagian timur itu. Pelatih Maratapura FC, Frans Sinatra Huwae mengatakan, kalau ada grup yang menggunakan sistem home and away, maka itu sama dengan menciderai semangat kompetisi itu sendiri. “Karena home tournament itu bukan kompetisi. Tapi, turnamen,” ujarnya.

Menurut dia, sejatinya tidak ada masalah bila semua grup menggunakan sistem home and away dalam kompetisi Liga -2 nanti. Sebab, konsep itu sudah pernah dijalankan dalam Indonesia Soccer Championship (ISC)-B 2016 lalu. “Dan, tidak ada klub yang komplain kok. Ini kan kompetisi profesional, kalau siapa nggak mampu, silakan mundur saja,” kata Frans.

 

sport-detik.com | Berita Bola, Prediksi Bola, Hasil Pertandingan, Jadwal Pertandingan, Skor Bola, Klasemen dan Transfer Pemain
Sumber : JPNN.com

Pos Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *