50 Tahun Sritex dan Mimpi Indonesia Menguasai Tekstil Dunia

DetikSport Sukoharjo – 50 tahun PT Sri Rejeki Isman Tbk atau dikenal dengan Sritex membanggakan Indonesia dalam bidang tekstil. Kendati ekonomi global sedang lesu nama Indonesia di tingkat dunia khususnya ekspor seragam militer sangat membanggakan. Di atas lahan seluas 130 hektare di Sukoharjo, Jateng, Sritex ‎terus bergeliat memproduksi tekstil maupun garmen termasuk mengekspor seragam militer ke 30 negara. Wakil Presdir Sritex Iwan Kurniawan Lukminto meyakini bahwa Indonesia memiliki potensi. Sebab, selain seragam militer, lebih dari 100 negara menggunakan produk Sritex karena perusahaan yang didirikan Lukminto itu juga dipercaya untuk memproduksi merek-merek fashion terkenal. Artinya, dunia mengakui keahlian tekstil Indonesia. “Saya tidak percaya dunia tekstil dianggap seperti sunset karena industri ini industri yang sunrise . Kita harus melihat 10-15 tahun ke depan,” kata Iwan Kurniawan Lukminto saat menerima rombongan wartawan dalam agenda press tour yang diadakan Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan (Kemhan), di Kantor Sritex, Sukoharjo, Jateng, Kamis (13/10). Sritex mulai ekspor seragam militer ke negara-negara anggota NATO dua tahun setelah Presiden Soeharto meresmikan pabrik Sritex di Sukoharjo tahun 1992. Sritex juga berinovasi dengan mengekspor seragam militer antiradiasi nuklir, antiinfra merah, antiserangga, dan antiapi. Optimisme Sritex bahwa Indonesia mampu menjadikan produk tekstil sebagai unggulan bukan muncul begitu saja. Menurut Iwan, Tiongkok selaku negara besar yang tekstil ataupun garmennya digunakan banyak negara belum tentu memiliki kualitas yang sama dengan produk Sritex. Ditambah lagi, dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok mengalami penurunan ekspor. Iwan menyebut, tahun 2013 Tiongkok mengalami penurunan sekitar 2-3 persen dari 38 persen pangsa pasar tekstil dunia. Penurunan itu bisa dijadikan peluang bagi Indonesia. Terlebih, Sritex juga mengekspor produk ke Tiongkok yang menandakan negara Tirai Bambu merupakan konsumen tekstil dan garmen Indonesia. “Sedangkan global market Indonesia hanya 3 persen. Jika dari 38 persen global market Tiongkok turun 2 persen dan masuk ke Indonesia tentu lumayan,” katanya. Namun demikian Indonesia masih kalah jauh dengan Tiongkok dalam pemenuhan kesejahteraan buruhnya. Tiongkok menggaji buruhnya perbulan sebesar US$ 500-US$ 600 atau mencapai Rp 6-7 juta. Sedangkan buruh Sritex yang perusahaannya telah mengekspor produk ke mancanegara selama puluhan tahun hanya digaji Rp 1,3 juta. “Peralihan produk tekstil akan terus berkembang. Namun membutuhkan upah yang terjangkau dan tenaga yang terampil. Indonesia punya market yang kuat,” beber Iwan. Untuk menumbuhkan market tekstil Indonesia memang bukan perkara mudah. Iwan menyebut, mengembangkan industri tekstil butuh kedewasaan. Dia juga berharap pemerintah bersikap tegas menutup celah masuknya tekstil ilegal ke Indonesia di samping menggairahkan daya beli masyarakat. “Produk Tiongkok masuk ke Indonesia itu produk sisa atau cacat, pasti harganya murah. Masuknya secara ilegal pula. Jadi kita harus membandingkan kualitasnya secara apple to apple dengan yang ada di pasaran,” kata Iwan yang juga menyebut Tiongkok bukanlah pesaing tetapi pangsa pasar bagi Indonesia untuk dirintis.‎ Sritex dibangun Lukminto berawal dari usaha kios kecil di Pasar Klewer, Solo, tahun 1966 dengan nama UD Sri Redjeki. Sritex sendiri akronim dari Sri Tekstil. Tahun 1980, Sritex mulai memproduksi seragam militer TNI selain produk fashion pada umumnya. Lukminto meninggal dunia tahun 2014, sedangkan dua puteranya, Iwan Setiawan Lukminto dan Iwan Kurniawan Lukminto meneruskan dinasti Lukminto di Sritex.‎ Iwan Setiawan menjabat presdir sedangkan Iwan Kurniawan sebagai wakil presdir. 60 persen produk Sritex diprioritaskan untuk ekspor, sedangkan sisanya untuk domestik.‎ Jasa besar Sritex dalam membangun reputasi Indonesia dalam bidang kekuatan militer nonalutsista banyak dirasakan negara-negara besar seperti Inggris, Belanda, Jerman, Australia, Swiss, Austria, dan Swedia. Negara tetangga juga menggunakan produk seragam militer Sritex seperti Malaysia, Singapura, Kamboja, Timor Leste dan Brunei Darussalam. Seragam TNI juga dikerjakan oleh Sritex namun tidak secanggih negara-negara Eropa maupun yang dipesan negara tetangga. Iwan beralasan tender tahunan yang tidak bisa seluruh proyek dikerjakan oleh satu pemenang saja untuk menghindari adanya monopoli sebagai kendala. Namun pihaknya berupaya menularkan produk berteknologi untuk ke seragam TNI. Seperti negara-negara eropa yang menerapkan standar minimal seragam militer antiinfra merah. “Kendala kita tender tahunan tidak bisa dimenangkan satu pemenang,” ungkapnya. Erwin C Sihombing/FMB Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait