Angkat Besi Minta Padepokan yang Manusiawi

DetikSport Tangerang –Tim angkat besi Indonesia yang terdiri dari para lifter, pelatih dan manager tim menegaskan sudah saatnya memiliki padepokan khusus cabang olahraga yang lebih manusiawi, apalagi 2 atlet angkat besi baru saja mempersembahkan 2 medali perak di Olimpiade Rio 2016, Eko Yuli Irawan dan Sri Wahyuni. Eko dan Sri berharap pemerintah bisa mendukung penuh dan lebih serius memperhatikan pembinaan cabor angkat besi. Keduanya meminta fasilitas dan peralatan yang layak untuk latihan dan sebagainya, tidak seperti sekarang yang menumpang di tempat PB PABBSI dan akan dibongkar karena renovasi kawasan GBK. “Ini juga demi target emas yang diidam-idamkan kita semua. Kalau cabang bulutangkis saja sudah punya padepokan di Cipayung, maka angkat besi juga semestinya sudah punya padepokan khusus. Angkat besi sudah lima kali Olimpiade selalu mempersembahkan medali sehingga saya kira wajar punya padepokan tersendiri,” kata Eko yang sudah meraih 3 medali dari 3 olimpiade kepada SP di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Minggu (14/8). Menurut Eko, tempat latihan yang ada di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta meski sudah direnovasi sesungguhnya kurang memadai untuk cabang olahraga yang telah mampu membuktikan berprestasi dunia. Ia juga mengkritisi keterlambatan peralatan tanding yang menganggu jadwal latihan. Pelatih nasional angkat besi, Dirdja Wihardja menyatakan pada Oktober mendatang akan menghadapi kejuaraan dunia. Untuk itu pihaknya mempersiapkan para atletnya dengan lebih baik sebelum tampil di Olimpiade selanjutnya. “Kami sudah berencana untuk ada training camp ke luar sebagai persiapan. Tapi untuk mendongkrak prestasi angkat besi, saya berharap peran dari pemerintah harus lebih besar lagi. Ini terkait nutrisi dan tempat latihan terpusat layaknya pelatnas Cipayung untuk bulutangkis. Nutrisi dan suplemennya harus lebih dipersiapkan serius. Jangan seperti yang sudah-sudah,” katanya kecewa. Senada dengan itu, Manager tim angkat besi Indonesia, Alamsyah Wijaya meminta Satlak Prima beserta ahli-ahli nutrisi jangan hanya memberi workshop saja, tetapi juga turun ke lapangan dalam arti melekat. Selama ini tim terapi dan tukang pijat atlet saja yang melekat. “Seharusnya mereka tanyakan apa saja kebutuhan kami. Selain itu, kami juga harus punya padepokan. Bulutangkis ada, masa angkat besi yang juga jadi prioritas tapi tidak ada. Inia da apa. Harusnya kan ada. Saat ini persaingan sudah semakin berat. Kalau tak ada bentuk nyata, jangan minta target emas, apalagi masalah perlengkapan kemarin menuju Rio de Janeiro saja bermasalah,” kritik Alamsyah. Dengan keberhasilan angkat besi meraih dua perak di Olimpiade Rio, pembinaan olahraga ini semakin ditingkatkan. Mulai dari pemerintah, KONI-KOI dan pemangku kepentingan lainnya harus memberikan dukungan nyata, bukan retorika semata. Hendro D Situmorang/YUD Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait