Bestari Barus Tegaskan Elektabilitas Ahok-Djarot Masih Tinggi

DetikSport Jakarta – Juru Bicara (Jubir) Ahok-Djarot, Bestari Barus menegaskan tingkat elektabilitas dan kepercayaan publik terhadap pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat masih tinggi. Karena itu, kedua calon ini tidak perlu dipromosikan besar-besaran lagi seperti kedua paslon lainnya, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. “Tingkat elektabilitas dan kepercayaan publik masih tinggi terhadap Ahok dan Djarot,” kata Bestari, di Jakarta, Jumat (11/11). Dari survei internal yang dilakukan kader empat partai pendukung, yaitu PDIP, Golkar, Nasdem dan Hanura, ternyata masih banyak warga Jakarta yang menginginkan Ahok-Djarot kembali memimpin Kota Jakarta selama lima tahun kedepan. “Kita enggak perlu sewa lembaga survei lah. Kita kan sudah punya kader sampai akar rumput. Nah mereka selain bertugas menyampaikan visi, misi dan program Ahok-Djarot, juga menanyakan apakah ingin Ahok-Djarot memimpin Jakarta lagi. Hasilnya, mereka bilang, waduh bang, dibawah sih beda seperti permukaan. Artinya, meski banyak penolakan, warga masih mau dipimpin Ahok-Djarot,” paparnya. Sehingga, lanjut Bestari, tidak perlu lagi ada promosi besar-besaran terhadap Ahok dan Djarot. Untuk mempertahankan atau mendongkrak elektabilitas mereka. Karena mereka sudah terkenal kinerjanya dalam memimpin Kota Jakarta. Terukur kinerjanya dari pembangunan yang sudah dinikmati warga Jakarta. “Jadi Ahok dan Djarot ibarat beras. Nah, beras kan hampir enggak ada promosi kan, karena semua rakyat butuh beras. Beda kalau mi, kan banyak tuh ada Indomie, ada Sarimi, ada Supermi, jadi harus dipromosikan. Kalau beras nggak usah dipromosikan, makanya di Republik ini tidak ada marketing beras. Jadi kalau Ahok-Djarot masih perlu marketing, saya bingung sendiri,” terangnya. Selain itu, fenomena aksi penolakan yang dilakukan ormas atau sekelompok warga, dinilainya, akan semakin meningkatkan elektabilitas paslon dengan nomor urut dua ini. “Ada fenomena, Ahok semakin dibegituin, semakin naik elektabilitasnya. Ini fenonema anomali,” ujarnya. Kendati demikian, politisi dari Partai Nasdem ini tetap menghargai hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Hasil Survei tersebut tetap menjadi masukan, baik bagi tim kampanye, paslon Ahok-Djarot dan warga Jakarta sendiri. “Kita hormati dan apresiasi hasil survei LSI. Kan mereka sudah capai kerja melakukan survei. Jadi tetap menjadi suatu masukan bagi warga Jakarta, tim kampanye dan paslon sendiri. Kami berterima kasih juga sebetulnya, karena enggak usah kita bayar kita tahu hasilnya dan semakin meningkatkan kewaspadaan kita,” paparnya. Seperti diketahui, berdasarkan survei LSI Denny JA, pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat memperoleh dukungan sebesar 24,6 persen. Diikuti ditempat kedua, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni memperoleh dukungan 20,9 persen. Dan tempat ketiga ada pasangan Anies-Sandi yang memperoleh dukungan sebesar 20 persen. Sedangkan mereka yang menyatakan rahasia, tidak menjawab, dan belum memutuskan sebesar 34,5 persen. Meski unggul, lanjutnya, elektabilitas Ahok terus merosot. Saat ini, di November 2016, elektabilitas Ahok sudah di bawah 30 persen, yaitu diangka 24,6 persen. Artinya, tingkat elektabilitas Ahok turun sebanyak 6,8 persen dari survei yang sama di bulan Oktober 2016 yang tingkat elektabilitasnya mencapai 31,4 persen. Lenny Tristia Tambun/FER BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait