BI 7-Day Reverse Repo Rate Bisa Turun

DetikSport Jakarta – Keberhasilan pemerintah mengendalikan harga bahan pangan menekan inflasi Januari-September 2016 menjadi 1,97% dan diperkirakan maksimal hanya 3,1% hingga akhir tahun ini. Rendahnya inflasi dan membaiknya kurs rupiah memungkinkan Bank Indonesia menurunkan kembali BI 7-day reverse repo rate dari 5% ke 4,75%, sebelum akhir Desember mendatang. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis kemarin, pada September lalu inflasi masih terkendali sebesar 0,22%, sehingga inflasi year to date (tahun kalender Januari–September 2016) hanya 1,97% dan inflasi year on year (tahun ke tahun) sebesar 3,07%. Inflasi ini di bawah target pemerintah 4% dalam APBN-P 2016. Sementara itu, pada September 2015 terjadi deflasi sebesar 0,05%, namun inflasi Januari-September tahun lalu mencapai 2,24% dan inflasi tahun ke tahun menembus 6,83%. Tingginya inflasi tahun lalu antara lain karena kenaikan harga beras saat Bulan Puasa dan Lebaran pada Juni-Juli. Ekonom Bank BRI Akbar Suwardi mengatakan, tingkat inflasi September lalu sesuai ekspektasi kalangan ekonom. Ia memperkirakan, hingga akhir tahun ini, inflasi bisa ditekan di bawah 3,5% atau bahkan maksimal hanya sekitar 3,1%, karena secara siklus inflasi Oktober dan November rendah. “Dengan perkembangan realisasi inflasi yang rendah, arah suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate hingga akhir tahun 2016 masih mungkin diturunkan satu kali lagi, menjadi 4,75%. Rendahnya inflasi juga membantu menopang kurs rupiah yang kuat. Faktor-faktor positif dari domestik itu selanjutnya dapat mendorong IHSG (indeks harga saham gabungan),” katanya di Jakarta, Senin (3/10). Dengan inflasi yang rendah, lanjut dia, akan membantu menurunkan biaya dana dan selanjutnya suku bunga kredit turun lagi. Ia mengatakan, pada akhir tahun 2016, target bunga kredit single digit sangat mungkin tercapai, khususnya untuk sektor atau segmen-segmen kredit tertentu. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, pada September 2016 terjadi inflasi 0,22%, karena kenaikan tarif atau harga jasa/barang kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,52%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,34%, kelompok kesehatan 0,33%, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,29%, kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,19%, serta kelompok sandang 0,13%. “Sektor pendidikan dan rekreasi mengalami inflasi tertinggi mencapai 0,52%, lantaran kenaikan biaya masuk perguruan tinggi. Sedangkan kelompok pengeluaran bahan makanan mengalami deflasi 0,07%,” paparnya. Ia menjelaskan lebih lanjut, inflasi komponen inti ( core inflation ) pada September lalu tercatat 0,33%, Januari-September 2016 sebesar 2,58%, dan secara tahun ke tahun 3,21%. Inflasi komponen yang harganya diatur pemerintah ( administered price ) mencapai 0,14% pada September, sedangkan pada Januari-September 2016 terjadi deflasi sebesar 1,45% dan secara tahun ke tahun deflasi 0,38%. Sedangkan untuk komponen bergejolak ( volatile food ) pada September terjadi deflasi 0,09%, namun pada Januari-September 2016 terjadi inflasi sebesar 3,79% dan secara tahun ke tahun inflasi 6,51%. BI Menilai Baik Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung menilai, inflasi September sebesar 0,22% cukup baik, sejalan dengan perkiraan bank sentral. Pihaknya memperkirakan, inflasi hingga akhir tahun ini akan berada di bawah 4%. Juda mengatakan, sejauh ini, pihaknya belum akan mengubah stance kebijakan moneter BI. Sebelumnya, BI telah menetapkan stance kebijakan moneter longgar (easing) dan menyatakan masih terbuka ruang pelonggaran moneter maupun makroprudensial ke depan. “Jadi, stance kebijakan kami juga belum berubah,” ujar Juda. Sejalan dengan pelonggaran moneter yang telah dilakukan BI dan stabilnya inflasi, menurut Juda, ke depan tren penurunan suku bunga bank masih akan berlanjut. Adapun berdasarkan data BI, hingga akhir Agustus 2016, rata-rata suku bunga kredit perbankan tercatat sebesar 12,31%, turun 52 bps dari rata-rata bunga kredit akhir Desember 2015 sebesar 12,83%. Sedangkan pada periode yang sama, BI sebelumnya menjelaskan, rata-rata penurunan bunga deposito sudah mencapai sekitar 100 bps. “Kalau melihat historisnya, pada akhirnya pelonggaran moneter sebagian besar akan tertransmisi pada suku bunga kredit. Dengan kata lain, suku bunga kredit masih dalam tren menurun ke depan,” ucap dia. Bunga KPR Single Digit Direktur Keuangan dan Treasury PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Iman Nugroho Soeko mengatakan, pihaknya memiliki komitmen menurunkan bunga kredit sepanjang cost of fund perseroan juga dapat diturunkan setara. Pihaknya juga akan menjaga net interest margin (NIM) yang moderat di angka 4,6-4,9%. “Penurunan suku bunga kredit lambat laun akan terjadi, namun transmisinya tidak secepat pada suku bunga simpanan. Di BTN, belum semua suku bunga kredit berada di single digit , baru suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang akan single digit . Sedangkan untuk kredit konstruksi masih berada di kisaran 12,5-13% dan kredit investasi 13,5%. Untuk perusahaan besar memang bisa single digit , namun disesuaikan dengan premium risiko masing-masing debitur,” papar dia. Iman menjelaskan, intervensi dari regulator seperti BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) masih dibutuhkan untuk mendorong penurunan suku bunga kredit. Pasalnya, pasar keuangan di Indonesia masih dangkal dan tersegmentasi. ”Menurut saya, cappin g suku bunga deposito oleh OJK sangat dibutuhkan. Ini bahkan perlu lebih agresif,” tandas dia. Pertumbuhan Kredit Membaik Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Nelson Tampubolon mengungkapkan, seiring dengan penurunan suku bunga bank, pada September 2016 pertumbuhan kredit diperkirakan kembali meningkat ke level 7%. Sebelumnya, pada Agustus 2016, pertumbuhan kredit menurun di angka 6,7% ( year on year /yoy), dari 7,6% pada Juli 2016 (yoy). Sampai akhir tahun, pertumbuhan kredit diprediksi bisa mencapai 10%. Faktor yang diperkirakan memicu peningkatan pertumbuhan kredit pada September 2016, lanjut Nelson, adalah meningkatnya kepercayaan pemilik dana. “Ini seiring besarnya dana amnesti pajak yang masuk. Kepercayaan tersebut yang menjadi motor penggerak pertumbuhan kredit sampai akhir tahun. Pemilik dana akan mulai mencari proyek-proyek yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar dia di Jakarta belum lama ini. Hingga Selasa (4/10) pukul 00.12 WIB, dana tebusan tax amnesty mencapai Rp 97,2 triliun dari target Rp 165 triliun tahun ini. Sedangkan dana repatriasi sebesar Rp 137,17 triliun. Nelson menjelaskan, faktor lain pendorong pertumbuhan kredit adalah penurunan suku bunga kredit, kendati transmisi dari suku bunga acuan BI terhadap suku bunga kredit tidak secepat pada suku bunga simpanan. Nelson menyebutkan, transmisi suku bunga acuan BI terhadap suku bunga simpanan bisa mencapai 100 basis poin (bps), namun transmisi ke suku bunga kredit baru sekitar 50-60 bps. Untuk mempercepat penurunan suku bunga simpanan dan suku bunga kredit, OJK sudah melakukan pembatasan ( capping ) suku bunga simpanan bagi bank BUKU III dan BUKU IV. “Seiring dengan penetapan suku bunga acuan baru oleh Bank Indonesia yakni BI 7-day reverse repo rate , OJK terbuka untuk melakukan review mengenai capping tersebut. Namun, kami harus melihat kondisi persaingan suku bunga simpanan di perbankan, apabila masih terjadi persaingan suku bunga, capping akan tetap kami berlakukan,” ujar dia. Gita Rossiana/Yosi Winosa/Agustiyanti/Devie Kania/Nasori/EN Investor Daily

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait