First Asia Capital: IHSG Masih Rawan Koreksi

DetikSport Jakarta – Pidato Gubernur Bank Sentral Amerika (The Fed) Janet Yallen akhir pekan lalu, mempertebal keyakinan pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed beberapa waktu yang akan datang. Ini diyakini analis akan memicu pembalikan arus dana asing (capital outflow) sekaligus menekan kembali pergerakan rupiah. Kekhawatiran kenaikan Feredal Funds Rate (FFR) diperkirakan Kepala Riset First Asia Capital David Nathanael Susanto akan mewarnai perdagangan di pasar saham. Menurutnya pelaku pasar cenderung wait and see di tengah meningkatnya kekhawatiran kenaikan tingkat bunga AS menjelang akhir tahun ini. “Untuk hari ini IHSG kami perkirakan bergerak di kisaran support 5.410 dengan resisten di 5450,” ujar David dalam riset yang diterbitkan pagi ini, Senin (29/8). Selain sentimen berskala global tadi, dari dalam negeri pelaku pasar dibuat cemas oleh meningkatnya resiko fiskal tahun ini. “Pemodal terpaksa melakukan valuasi ulang terkait kenaikan harga saham yang relatif tinggi dengan pencapaian kinerja emiten dan ekonomi,” ujarnya. Meningkatnya resiko fiskal menurutnya tercermin dari langkah Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali memangkas belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) di APBN-P 2016 hingga Rp137,65 triliun menyusul ancaman tidak tercapainya target penerimaan pajak (shortfall) hingga Rp219 triliun. “Langkah pemangkasan ini mencerminkan ketatnya likuiditas fiskal pemerintah, sehingga sulit diharapkan menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi tahun ini,” imbuhnya. Kendati begitu sejumlah saham dianggap David masih menarik diakumulasi diantaranya TLKM, BBRI, INTP, UNVR, INDF, MNCN, ICBP, PGAS, ADRO dan MAPI. Mashud Toarik/MT Majalah Investor

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait