Gwie Gunawan Deklarasi Kepemilikan Saham pada 3 Emiten

DetikSport Jakarta – Gwie Gunawan mendeklarasikan kepemilikan saham secara langsung pada tiga emiten, yaitu PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST), PT Jaya Pari Steel Tbk (JPRS), dan PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON). Gwie Gunawan telah memperoleh surat keterangan amnesti pajak dari Ditjen Pajak tertanggal 18 September 2016. “Surat pengampunan pajak itu kami terima pada 4 Oktober 2016,” ungkap Gwie Gunawan dalam keterangan resmi, Selasa (18/10). Dengan deklarasi tersebut, kepemilikan saham Gwie Gunawan pada tiga emiten meningkat signifikan. Kepemilikannya di Gunawan Dianjaya Steel menjadi sebesar 87,32%, Jaya Pari Steel menjadi 83,95%, dan Betonjaya menjadi 79,86%. Sebelumnya, pemegang saham Gunawan Dianjaya Steel tercatat atas nama Kellywood Holdings Ltd sebesar 51,37% saham, Bavarian Venture Investment Ltd sebesar 35,94%, Jaya Pari sebesar 8,29%, dan Betonjaya 2,39% saham. Sementara itu, pemegang saham terbesar Jaya Pari tercatat atas nama International Magnificent Fortune Ltd sebesar 35,7%, Vihara Limited sebesar 32,72%, dan Gwie Gunawan sebesar 15,53%. Sedangkan pemegang saham Betonjaya terdiri atas Positive Mind Ltd sebesar 45,56%, Profit Add Ltd sebesar 34,31%, Jenny Tanujaya sebesar 9,58%, dan Gunawan Dianjaya sebesar 1,96%. Pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin, saham GDST bertengger pada level Rp 118, JPRS sebesar Rp 135, dan BTON sebesar Rp 132. Dengan begitu, total kekayaan Gwie Gunawan pada tiga perusahaan tersebut mencapai Rp 946,8 miliar. Tahun ini, Gunawan Dianjaya menargetkan pendapatan sebesar Rp 914 miliar. Perseroan juga menargetkan laba bersih sebesar Rp 27,4 miliar atau setara dengan 3% dari total pendapatan. Perseroan meyakini target tersebut dapat tercapai dengan terus mencari peluang pasar luar negeri. Gunawan Dianjaya juga meningkatkan efisiensi di sektor biaya, di antaranya dengan melakukan pembelian bahan baku dengan jumlah yang paling efisen. “Mengingat biaya bahan baku merupakan porsi terbesar dari harga pokok,” ungkap manajemen perseroan. Secara rutin, perseroan juga melakukan konversi dengan segera hasil atas penjualan rupiah menjadi dolar Amerika Serikat (AS). Perseroan juga menjaga sebagian besar likuditas dalam bentuk dolar AS dengan tujuan untuk menekan risiko valuta asing. Tahun ini, Gunawan Dianjaya melanjutkan proses pembangunan gedung pabrik dan mesin plate mill nomor dua secara bertahap. Proses pembangunan pabrik disesuaikan dengan kemampuan finansial perseroan. “Pembangunan plate mill No 2 diperkirakan selesai pada semester II akhir 2017,” ungkap manajemen. Gunawan Dianjaya Steel meraih pendapatan sebesar Rp 414,5 miliar pada semester I tahun ini. Raihan tersebut lebih rendah dari realisasi periode sama tahun lalu sebesar Rp 488,13 miliar. Sementara itu, pendapatan Jaya Pari tercatat sebesar Rp 17,9 miliar. Sementara Jaya Pari merealisasikan rugi bersih sebesar Rp 19,4 miliar, meningkat dibandingkan rugi bersih sepanjang tahun lalu sebesar Rp 2 miliar. Adapun pendapatan Betonjaya pada semester I-2016 sebesar Rp 30,2 miliar, menurun dari realisasi periode sama tahun lalu sebesar Rp 40,2 miliar. Betonjaya mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 6,4 miliar, lebih rendah dari realisasi laba bersih tahun lalu sebesar Rp 5,6 miliar. Dana Repatriasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya mengungkapkan bahwa sebagian dana repatriasi dari hasil program pengampunan pajak (tax amnesty) mulai masuk ke pasar modal. Dana tersebut masuk melalui produk reksa dana penyertaan terbatas (RDPT). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengatakan, dana yang masuk pasar modal tergolong masih kecil dalam beberapa bulan ini. Mayoritas dana repatriasi pengampunan pajak masih disimpan di rekening khusus bank peserta program tax amnesty. “Sebanyak 95% dana repatriasi masih tersimpan di bank dan gateway yang berbeda-beda. Di luar bank, dana yang masuk lewat RDPT masih di bawah Rp 100 miliar,” katanya, belum lama ini. Nurhaida memperkirakan, dana repatriasi yang masuk ke pasar saham bisa mencapai Rp 100 triliun hingga periode tax amnesty berakhir pada Maret 2017. Dana tersebut akan ditambah dengan potensi Rp 300 triliun yang masuk ke instrumen investasi pasar modal lainnya, seperti obligasi korporasi dan pemerintah. “Perhitungan potensi ini didasarkan pada tren pertumbuhan pasar modal Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir,” ujar dia. Muhammad Rausyan Fikry/MHD Investor Daily

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait