Jerman Kirim Mahasiswi Teliti Bekantan Kalimantan

DetikSport Banjarmasin – Jerman melalui TU Dresden University mengirim mahasiswi untuk meneliti keberadaan satwa endemik Kalimantan, bekantan (nasalis larvatus). “Dalam penelitian tersebut, TU Dresden University bekerja sama dengan Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin,” kata Ketua Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia ULM Amalia Rezeki di Banjarmasin, Rabu (5/10). Penelitian ini dalam rangka pengembangan ekosistem lahan basah, untuk konservasi bekantan yang merupakan primata endemik Kalimantan dan juga ikon Provinsi Kalimantan Selatan yang saat ini keberadaannya terancam punah akibat kerusakan hutan, terutama hutan lahan basahnya yang menjadi habitat utama bekantan. Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia ULM melalui Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) membangun kemitraan dengan TU Dresden University Germany. Melalui program internship, TU Dresden University mengirimkan mahasiswinya untuk magang. Mereka sekaligus meneliti bekantan di Pusat Penyelamatan Bekantan di bawah naungan Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia melalui Sahabat Bekantan Indonesia yang merupakan binaan Universitas Lambung Mangkurat pada 5-30 September 2016. “Kemitraan yang kami bangun dengan TU Dresden University-Germany, terutama program internship ini juga merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, baik di bidang pendidikan, penelitian maupun pengabdian masyarakat.” kata Amalia Rezeki. “Saat ini kami menerima mahasiswi TU Dresden University yang melakukan magang, dan menjadi asisten dosen di Laboratorium Biologi LM serta Laboratorium Riset Bekantan di Pusat Penyelamatan Bekantan, ” kata Amalia Rezeki lagi. Amalia Rezeki yang juga dosen Fakultas Pendidikan Biologi ULM tersebut menyebutkan, Mary Ann Bellinda Davenport, mahasiswi dari fakultas biologi TU Dresden University ini selama satu bulan berada di ULM dan Pusat Penyelamatan Bekantan. Mahasiswi tersebut di bawah bimbingan Prof Dr Ir HM Arief Soendjoto selaku penasehat Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia yang juga guru besar dari ULM serta Prof Dr Klaus Reinhardt, guru besar fakultas biologi TU Dresden University – Germany. Pada kesempatan ini, Mary juga melakukan penelitian tentang bekantan dengan judul “A Comparison of Daily Activity of Proboscis Monkeys in Conservation Area Bakut Island and in Sahabat Bekantan Indonesia Rehabilitation Center”. Sementara itu Rektor ULM Prof Dr H Sutarto Hadi menyambut baik kemitraan yang dibangun selama ini oleh Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia dengan perguruan tinggi di luar negeri, seperti dengan TU Dresden University, yang merupakan salah satu perguruan tinggi terkemuka di Jerman melalui program internship ini. Diharapkan kerja sama ini lebih ditingkatkan lagi sekaligus dapat dijadikan salah satu kredit dalam peningkatan akreditasi ULM. Sejak didirikan tahun 2013, Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia melalui Program Pengembangan Ekosistem Lahan Basah dalam Rangka Konservasi Bekantan di Kalimantan Selatan telah menerima lebih kurang 50 orang asing dari berbagai perguruan tinggi di luar negeri melalui program internship maupun volunteer. Pada umumnya mereka dari Australia, Kanada, Inggris, Amerika, Perancis dan Jerman, kata Amalia Rezeki. /EVA

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait