Menaker: PT Islam Jadi Laboratorium Kehidupan

DetikSport Jakarta – Menteri Ketenagakerjaan Muhamad Hanif Dakhiri menegaskan Perguruan Tinggi Islam harus dapat memposisikan dirinya sebagai laboratorium kehidupan. Pasalnya kualitas manusia Indonesia yang diharapkan tidak terbatas pada kemampuan intelektualitasnya saja, tetapi juga peningkatan seluruh potensi kemanusiaan. Diantaranya mencakup keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, kualitas mental, moral, akhlak, serta kejujuran sebagai perwujudan dari manusia Indonesia seutuhnya. Hanif mengatakan itu seusai memberikan kuliah umum pada masa perkuliahan tahun akademik 2016/2017 di Universitas Darul Ulum Islamic Center Sudirman GUPPI (UNDARIS) di Ungaran, Jateng, Sabtu (10/9). Dalam kuliah umum bertema “Peran Perguruan Tinggi Dalam Menyiapkan Tenaga Kerja yang Berkarakter dan Unggul untuk Menghadapi Tantangan Global” itu, Hanif menegaskan, untuk mewujudkan sebagai laboratorium kehidupan bukan perkara mudah. Sebab selain memerlukan dukungan materil, juga tidak kalah pentingnya adalah kemauan untuk melakukan transformasi mencakup penyelarasan strategi, proses akademik, jejaring kelembagaan, kompetensi, komitmen terhadap mutu dan gaya kepemimpinan. “Proses belajar- mengajar harus dirancang dan didesain sesuai dengan tuntutan kondisi riil sosial kemasyarakatan, tidak lagi bersifat tex book, terbuka keleluasaan untuk melakukan eksplorasi, berbagi pengalaman antara dosen dan mahasiswa, terbukanya ruang dalam beraktifitas pada berbagai kegiatan, forum-forum diskusi dan interaksi, kajian-kajian ke-Islaman kontemporer di tumbuh suburkan, sehingga lingkungan perguruan tinggi terbangun nilai-nilai akademik yang universal, ” lanjut Hanif. Hanif menambahkan, Perguruan Tinggi Islam juga tidak hanya dituntut dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Namun dalam kancah global, perguruan tinggi Islam harus memiliki peran menjadi benteng, menjunjung tinggi nilai-nilai akademik untuk mencerdaskan bangsa dan lebih progresif dalam menjawab perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat secara sistematis. “Dengan orientasi pada pembangunan karakter yang bersumber dari ajaran Islam dan penguasaan ilmu pengetahuan serta keterampilan, maka perguruan tinggi Islam, seharusnya mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang dalam konteks ke-Indonesiaan disebut manusia Indonesia seutuhnya, ” kata Hanif. Hanif menjelaskan, secara keseluruhan, bangsa Indonesia memiliki sumber daya nasional yang baik dalam berinteraksi antar negara. Bahkan memungkinkan untuk memiliki posisi tawar yang strategis dalam percaturan kerjasama global. Dalam konteks kerja sama global tersebut Hanif mengingatkan harus dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dari Sabang sampai Merauke. “Globalisasi, merupakan suatu keniscayaan, bahkan dengan potensi sumber daya nasional yang kita miliki, kita optimistis dapat menghadapinya. Namun yang patut kita persiapkan dengan baik adalah globalisasi tersebut akan membawa perubahan terhadap nilai-nilai kehidupan bermasyarakat, ” ujarnya. Hanif pun menyakini globalisasi akan membawa perubahan terhadap tatanan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat sebagaimana telah disebutkan diatas. “Karenanya perguruan tinggi Islam seharusnya mampu merumuskan serta mengaktualisasikan kembali nilai-nilai kebangsaan yang kuat dalam berinteraksi terhadap tatanan dunia luar dengan tetap berpijak pada jatidiri bangsa, ” katanya. Siprianus Edi Hardum/EHD Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait