Menatap Properti 2017 Lebih Optimistis (1)

DetikSport PARA pengembang properti punya optimisme tersendiri memasuki 2017. Bahkan, mereka yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) berani memprediksi ada pertumbuhan 15% pada tahun depan. “Kami optimistis, tahun depan properti tumbuh 12% sampai 15%,” kata Eddy Hussy, dalam acara Bincang-bincang REI dengan Forwapera, di Jakarta, Kamis (10/11). Optimisme itu bukan tanpa alasan. Program amnesti pajak (tax amnesty) tahap pertama yang diguliarkan pemerintah, dinilai sukses dalam pelaksanaannya. Program itu akan berakhir pada Maret 2017. Para pengembang properti berharap dana yang sudah dideklarasikan oleh wajib pajak dalam program tax amnesty bisa diinvestasikan ke properti. Di bagian lain, dana dari program itu akan digunakan pemerintah untuk melanjutkan pembangunan. Ini akan membuat perekonomian bergulir dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Jika roda perekonomian bergulir, kebutuhan properti juga akan meningkat. “Bagi masyarakat, dana tax amnesty perlu mencari instrumen investasi yang baru. Properti bisa menjadi alternatif terbaik sebagai instrumen investasi,” papar Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk, Theresia Rustandi, kepada Investor Daily, di Jakarta, baru-baru ini. Menurut Eddy Hussy, ada beberapa faktor yang membuat properti di Indonesia menarik, antara lain, pertumbuhan ekonomi diperkirakan lebih baik pada 2017, yakni 5,3%. Indonesia merupakan negara dengan PDB terbesar di kawasan Asia Tenggara. Sementara rasio PDB terhadap KPR Indonesia masih kecil yaitu 2,8% per 2015. Di bawah Singapura yang mencapai 45,9%, Malaysia 37,8%, Thailand 22,3%, dan Filipina 3,3%. Eddy juga menjelaskan, Indonesia memiliki bonus demografi dengan jumlah penduduk terbanyak di Asia Tenggara dan nomor empat di dunia dengan jumlah penduduk sekitar 255 juta jiwa. Dari jumlah itu, persentase jumlah penduduk usia produktif (15 tahun -64 tahun) mencapai 66,5%. Lalu, kebutuhan rumah akan terus meningkat. Jumlah kelas menengah terus bertumbuh, dimana peningkatan kualitas hidup akan mendorong penjualan properti dan pengembangan kawasan. “Harga properti di Indonesia masih cukup rendah dibanding dengan di negara Asean lainnya, yang harga sewa dan jual sudah cukup tinggi,” katanya. Pada 2017, lanjutnya, pemerintah terus melanjutkan pembangunan infrastruktur sehingga potensi pasar properti diperkirakan masih positif. Ditambah suku bunga KPR/KPA diperkirakan tahun ini mulai turun setelah BI mengumumkan mulai menggunakan BI 7-day Reverse Repo sebagai suku bunga acuan yang efektif mulai 19 Agustus 2016. “Bunga KPR/KPA turun akan mendorong penjualan properti. Saat ini BI 7-Day RR berada pada level 4,75% dan diharapakan suku bunga KPR/KPA bisa single digit,” ujarnya. Hal positff lainnya, jelas dia, relaksasi loan to value (LTV) diharapkan bisa lebih rendah lagi dari ketentuan yang berlaku saat ini, dimana DP untuk rumah pertama bisa 15%. REI berharap DP bisa 10%. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak terlalu volatile atau cenderung stabil di level Rp 13.000-Rp 13.100. “Diharapkan bisa membuat harga bahan bangunan impor lebih stabil,” jelas Eddy. Dia juga menilai, inflasi cenderung terkendali dan diperkirakan sesuai target pemerintah, yakni di kisaran 5% hingga akhir tahun. Harga BBM cenderung turun dan harga makanan juga tidak bergejolak. “Artinya daya beli masyarakat masih bisa dipertahankan atau mungkin naik,” ujar dia. Imam Muzakir/EDO Investor Daily

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait