Politikus Golkar Akui Komisi V Terima Uang Saat Kunker ke Maluku

DetikSport Jakarta – Mantan Anggota Komisi V dari Fraksi Golkar, Elion Numberi mengakui turut serta dalam kunjungan kerja ke Maluku dan Maluku Utara. Menurut Elion, kunjungan kerja tersebut merupakan bagian dari tugasnya sebagai wakil rakyat. Hal itu diungkapkan Elion usai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi kasus dugaan suap proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera), Jumat (4/11). Usai diperiksa, Elion mengakui adanya uang untuk anggota Komisi V yang ikut kunker. Meski demikian, Elion mengklaim tak turut menerima uang tersebut. “Tidak (terima uang). Tidak. Untuk mereka. Saya tidak,” kata Elion usai diperiksa penyidik di Gedung KPK. Sebelumnya, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) IX wilayah Maluku dan Maluku Utara, Amran Hi Mustary yang telah menjadi tersangka menyebut seluruh anggota Komisi V yang turut serta dalam kunjungan kerja (kunker) ke Maluku pada Agustus 2015 lalu menerima uang dari Dirut PT Windhu Tunggal Utama (WTU) Abdul Khoir. Amran melalui pengacaranya, Hendra Karianga membeberkan untuk pimpinan Komisi V, seperti Ketua Komisi V Fary Djemi Francis dan dua Wakil Ketua Komisi V, yakni Michael Wattimena serta Yudi Widiana mendapat masing-masing Rp 50 juta. Sementara untuk anggota lainnya mendapat uang sekitar Rp 35 juta. Hendra menjelaskan, uang untuk delapan anggota Komisi V diserahkan Abdul Khoir itu melalui Amran. Beberapa diantaranya yakni, Michael Wattimena, mantan Anggota Komisi V dari Fraksi PDIP, Damayanti Wisnu Putranti dan anggota Komisi V dari Fraksi Golkar, Ellion Numberi. Disinggung mengenai hal ini, Elion menegaskan tak menerima uang tersebut. Elion menyatakan, tak tahu menahu mengenai uang tersebut. “Ya itu kan urusan dia (Amran). Saya tidak tahu. Itu hak dia bicara. Tidak, saya tidak biasa begitu (terima uang). Dulu saya di (Komisi) X. Tidak biasa begitu. Saya kan tidak tahu saya kan baru di Komisi (V),” kata Elion yang kini bertugas di Komisi VIII. Meski demikian, Elion enggan membeberkan materi pemeriksaan yang dijalaninya hari ini. Elion hanya menyebut, pemeriksaannya kali ini untuk melengkapi berkas Amran. “Cuma melengkapi BAP saja. (BAP Amran) Iya. Cuma melengkapi keterangan kemarin,” katanya. Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, disebutkan, Abdul Khoir memberikan uang saat kunker Komisi V itu dengan rincian, Rp 50 juta untuk Ketua Komisi V (Fary Djemi Francis), Rp 50 juta untuk Wakil Ketua Komisi V (Michael Wattimena dan Yudi Widiana), Rp 30 juta untuk Ibu Yanti (Damayanti Wisnu Putranti), Rp 20 juta masing-masing untuk 12 anggota Komisi V, Rp 5 juta untuk pendampingn Rp 25-30 juta untuk pendeta (Elion Numberi), Rp 25-30 juta untuk Pak Umar (Umar Arsal, Anggota Komisi V dari Fraksi Demokrat). Kunjungan kerja ini menjadi pintu masuk terjadinya suap untuk memuluskan proyek infrastruktur di Maluku dan Maluku Utara. Sejumlah anggota Komisi V DPR mengusulkan proyek dengan menggunakan dana aspirasi agar mendapat fee dari pengusaha yang menggarap proyek tersebut. Kasus ini telah menjerat tujuh orang, termasuk tiga legislator, yakni Damayanti Wisnu Putranti dari Fraksi PDIP, Budi Supriyanto (Fraksi Golkar), dan Andi Taufan Tiro (Fraksi PAN). Selain itu, kasus ini juga menjerat Kepala BPJN IX, Amran Hi Mustary; Dirut PT Windhu Tunggal Utama, Abdul Khoir; serta dua kolega Damayanti, Julia Prasetyarini, dan Dessy A Edwin. Fana Suparman/PCN Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait