Rektor UT: Kerja Sama Harus Dibangun dengan Kepercayaan

DetikSport Tangerang Selatan – Rektor Univeritas Terbuka (UT) Tian Belawati mengatakan dalam menjalin kerja sama dengan industri atau pihak mana pun, hal pertama yang harus dimulai adalah membangun kepercayaan. Pasalnya, jika tidak ada kepercayaan, sangat sulit mewujudkan kerja sama. Industri pun ragu dan enggan untuk berkolaborasi. Tian menuturkan, kepercayaan dapat dibentuk dengan integritas melalui komunikasi yang baik. Untuk itu, dalam meningkatkan mutu mahasiswa, tentu sangat penting bagi UT untuk bekerja sama dengan pihak mana pun. UT pun selalu mengedepankan hal tersebut. Pasalnya tidak akan mudah meyakinkan industri untuk memberikan bantuan peningkatan mutu. “Ini berdasarkan pengalaman. UT menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak, misalkan, Microsoft. Kami benar-benar membangun kepercayaan, apalagi ini perusahaan luar. Kami harus membangun rasa percaya sehingga industri yang akan berkolaborasi tidak meragukan kami. Mereka dengan senang hati mau mengeluarkan dana untuk membantu menyediakan layanan pendidikan pada mahasiswa. Jadi kepercayaan itu sangat penting.” kata Tian pada seminar nasionai FMIPA-UT yang bertemakan “Peran Sains dan Teknologi Dalam Mendukung Gaya Hidup Perkotaan atau Urban Lifestyle yang Berkualitas“ yang diselenggarakan dalam rangkaian Dies Natalis Ke-32 Universitas Terbuka di Gedung UTCC, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (22/9). Untuk membekali para dosen, praktisi, para penentu kebijakan, dan masyarakat umum yang peduli akan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan hidup, UT pun menghadirkan pembicara yang memiliki catatan baik dalam membangun rasa percaya dalam kepemimpinannya, yaitu Bupati Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), Prof M Nurdin. Menurut Tian, Prof Nurdin merupakan sosok yang luar biasa. Kinerjanya baik dalam mengubah Bantaeng dari wilayah yang tidak masuk dalam perhitungan kota teknologi menjadi kota yang terkenal dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir ini. Ia melakukan itu semua dengan berbagai upaya untuk memaksimalkan pembangunan daerah tersebut. Prof Nurdin dalam kesempatan sama menyampaikan hal senada. Ia menuturkan, keberhasilan dibangun dengan rasa kepercayaan dan integritas guna meyakinkan pihak industri dan pihak lainnya, termasuk dalam birokrasi, agar dapat sejalan. Hal ini dikatakannya berdasarkan pengalamannya dalam membangun Bantaeng selama tujuh tahun terakhir ini. Menurut Prof Nurdin, tidak mudah untuk membangun wilayah dengan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) rendah. Kepala daerah harus pandai membangun jaringan agar dapat menjadikan daerahnya mandiri melalui kerja sama dengan banyak pihak, khususnya para industri. Prof Nurdin menuturkan, ketika pertama kali menjabat sebagai Bupati Bantaeng, ia hanya mendapatkan alokasi anggaran sejumlah Rp 281 miliar. Pihaknya lantas membangun kepercayaan untuk menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak. Salah satunya adalah ide membangun Bantaeng dari desa ke kota. Pasalnya, desa merupakan pusat segala penghasilan, maka semua harus dimulai dari sana. Para petani diberi akses, sehingga segala hasil panen dapat dijual dengan harga tinggi. Kerja samanya itu membuahkan hasil hingga banyak pihak mau bekerja sama. “Saya ingat betul setelah dilantik seminggu, saya jalan kaki dan melihat akses jalan di desa tidak bagus. Ini akan berdampak pada hasil panen. Para petani tentu menjual hasil panen dengan harga sesuai yang ditentukan pedagang. Karena akses jalan jelek, petani cenderung cari yang instan, mereka menjual ke pedagang dengan harga murah. Dengan dana yang minim, saya membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Saya meyakinkan mereka dengan kepercayaan,” kata Prof Nurdin. Keberhasilan Bantaeng, kata Prof Nurdin, dapat ditiru oleh daerah lain asalkan kepala daerah mau membangun daerah dengan tidak mengharapkan APBD. Sebab, melalui kemandirian seperti yang terjadi di Bantaeng, mereka berhasil mengubah tanah tandus menjadi kawasan hijau dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mutu SDM Kemajuan suatu daerah, lanjutnya, harus didukung oleh sumber daya manusia (SDM). Untuk itu, pihaknya mendorong penguatan pendidikan sejak pendidikan usia dini (PAUD). “Saya siapkan ini dari tingkat usia dini. Saya takut ketika saya berhenti, tidak tersedia SDM yang terdidik, maka SDM akan berhenti juga. Untuk memenuhi ini, para guru harus berkualitas. Tahun ini, ada 38 guru yang dapat beasiswa LPDP untuk kembali melanjutkan pendidikan,” ujarnya. Tingginya daya saing SDM anak bangsa bisa ditingkatkan melalui berbagai cara. Jika kualitas SDM tinggi, tentu akan memperkecil persoalan kemiskinan di masyarakat. Hal ini juga merupakan kunci meraih kesuksesan suatu daerah. Sementara itu, terkait peranan UT, ia mengaku hadirnya UT sangat membantu meningkatkan SDM bangsa. Pasalnya, masih banyak guru yang belum memenuhi standar pendidikan yang ditentukan untuk dapat melanjutkan pendidikan. Selain itu, hadirnya UT juga memberi akses yang mudah untuk para pegawai negeri yang ingin meningkatkan kualitas pendidikannya. Pasalnya, UT menawarkan sistem pendidikan jarak jauh dengan sistem daring yang tidak kalah baik dari kualitas perguruan tinggi lainnya. Maria Fatima Bona/AB BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait