UNESCO Apresiasi Komitmen Pemerintah Tuntaskan Tuna Aksara

DetikSport Palu – The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) memberikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) atas komitmen dalam penuntasan buta aksara. Perwakilan UNESCO, Zakki Gunawan dalam sambutan memberikan apresiasi kepada Pemerintahan Indonesia. Pasalnya, berdasarkan data dari UNESCO, Indonesia telah menunjukan pencapaian signifikan, khususnya angka literasi bagi kaum muda yang mencapai 99 persen. Sedangkan untuk tingkat literasi orang dewasa telah mencapai 93,09 persen. Menurut Zakki, komitmen penuntasan tuna aksara kaum muda tersebut diharapkan akan menumbuhkan calon pemimpin masa depan dengan tingkat keaksaraan yang lebih baik. “Statistik ini menunjukan bahwa pemerintah Indonesia telah menunjukan komitmen yang kuat akan penyediaan pendidikan yang berkualitas, baik bagi anak laki-laki dan perempuan sebagai pemimpin penerus bangsa, serta bagi orang dewasa,” kata Zakki berdasarkan siaran pers Puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-50 di kantor Gubernur, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Kamis (20/10). Selanjutnya, pada peringatan HAI tahun ini merupakan tahun kedua perayaan lima dekade pemberantasan tuna aksara di dunia. Maka UNESCO pada peringatan HAI mengangkat tema Reading The Past, Writing The Future atau Membaca Masa Lalu, Menulis Masa Depan. Sedangkan pada peringatan di tingkat nasional, pemerintah Indonesia mengangkat tema Penguatan Literasi Vokasi untuk Pembangunan Berkelanjutan. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD Dikmas) Harris Iskandar mengatakan, keaksaraan bukan hanya sekadar prioritas pendidikan, tetapi juga investasi yang sangat penting bagi masa depan yang berkesinambungan. Harris menuturkan, pemerintah terus berkomitmen dalam meningkatkan keaksaraan kaum muda dan pendidikan dewasa melalui berbagai kegiatan inovatif. Terbukti capaian pendidikan keaksaraan dalam sepuluh tahun terakhir menunjukan hasil yang signifikan. Pada 2005 persentase penduduk tuna aksara di Indonesia mencapai 9,55 persen atau sekitar 14,9 juta orang. Angka tersebut menurun pada 2015 menjadi 3,43 persen atau sekitar 5,6 juta orang. Selain itu juga, sampai saat ini tercatat sebanyak 11 provinsi yang memiliki persentase tuna aksara di atas rata-rata nasional yakni 3,43 persen, dan 25 kabupaten memiliki penduduk tuna aksara di atas 50.000 orang. “Ini perlu mendapatkan perhatian khusus melalui program pendidikan keaksaraan, seperti pelaksanaan program Afirmasi Pendidikan Keaksaraan untuk Papua (Apik Papua),” kata Harris. Harris menambahkan, program lain yang dapat dilaksanakan adalah Gerakan Indonesia Membaca (GIM), dan program Gerakan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Marginal (GP3M). Dijelaskan dia, kedua program tersebut tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mengembangkan keberdayaan seseorang secara ekonomi, sosial budaya, sains, teknologi informasi dan komunikasi, serta keuangan. Selain itu, program tersebut juga untuk menghindari kemungkinan warga yang sudah melek aksara menjadi tuna aksara kembali. Dengan demikian, dalam peringatan HAI menjadi waktu yang tepat untuk bersama-sama membebaskan bangsa dari tuna aksara. Hal tersebut perlu dilakukan karena tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab setiap orang terdidik untuk menuntaskan tuna aksara. Maria Fatima Bona/PCN Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu

Pos Terkait