HENRIKH MKHITARYAN, TRANSFER GENIUS ARSENAL

The Gunners telah mendapatkan pemain cerdas di dalam dan luar lapangan yang berpotensi melengkapi kedatangan Aubameyang.

Pada pekan yang sama ketika George Weah ditunjuk sebagai presiden Liberia, pemain lain yang dipuja di negara asalnya dan dikagumi oleh Arsene Wenger, menukarkan seragam merah Manchester United untuk Arsenal.

Henrikh Mkhitaryan akhirnya menjadi pemain Arsenal dan beberapa orang mengatakan itu adalah transfer yang seharusnya sudah terwujud sejak lama. Bos Gunners Arsene Wenger sudah sejak lama mengagumi mantan bintang Borussia Dortmund itu, namunWenger terpikat bukan hanya karena kemampuan teknis istimewa di lapangan yang membuatnya mencetak 23 gol dan mencatat 32 assist di musim terakhirnya di Westfalenstadion.

Kemampuan intelektual Mkhitaryan adalah salah satu aspek yang selalu Wenger cari saat mendatangkan pemain baru. Bintang  berusia 29 tahun itu mendapat ijazah diploma dari Institute of Physical Culture di Armenia dan juga belajar ekonomi di St Petersburg Institute – yang terakhir adalah jurusan yang sama dengan Wenger, pria dengan gelar ekonomi. Kapten Armenia itu juga menguasai bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, Armenia, Portugal, dan Italia.

Per Mertesacker, Petr Cech dan Laurent Koscielny semuanya dianggap sebagai tiga pemain paling cerdas di Emirates Stadium dan secara khusus adalah Mertesacker, yang mendapat tawaran untuk mengisi peran sebagai staf akademi Wenger mulai musim panas ini. Sementara Arsenal kehilangan pemain menyerang yang hebat dalam diri Alexis Sanchez karena pindah ke Manchester United, mereka mendapatkan atribut kreatif, cerdas, dan ekspresif dalam diri Mkhitaryan.

Meskipun ada kesenjangan yang jelas, mudah untuk mencari kemiripan aspek manusiawi dalam kisah Mkhitaryan dan Weah. Gelandang Armenia itu kehilangan ayahnya, Hamlet, karena tumor otak pada usia 33 tahun. Saat itu, Henrikh masih berusia tujuh tahun dan dia menyebut momen itu sebagai titik keberangkatan untuk menjadi pemain sepakbola profesional.

“Dia menjadi dorongan untuk saya, dia adalah motivasi saya, karena ketika saya masih muda, dia bermain sepakbola secara profesional dan saya selalu bermimpi untuk pergi bersamanya ke tempat latihan,” kata Mkhitaryan.

“Karena dirinya, ketika kami kembali ke Armenia [sebagai sebuah keluarga], menjadi impian saya untuk melanjutkan pekerjaannya dan juga menjadi pemain sepak bola. Ini [kematiannya] sangat disayangkan, tetapi begitulah hidup dan hidup terus berlanjut. Saya hanya berharap dia bangga melihat saya dari langit karena saya mencoba melakukan segalanya untuk membuatnya bangga. ”

Mkhitaryan menghabiskan sebagian besar masa mudanya di Prancis karena kerusuhan di Armenia memaksa keluarga tersebut untuk melarikan diri ke luar negeri. Ayahnya bermain di divisi dua sepakbola Prancis, Valence, sebuah tim yang didirikan oleh orang-orang Armenia, dan Henrikh selalu memohon pada ayahnya untuk dibawa serta saat latihan. Perjalanan Mkhitaryan di seluruh dunia turut menyempatkannya untuk menjalani uji coba di Sao Paulo pada usia 14, di mana dia bermain bersama orang-orang seperti Hernanes dan Oscar.

“Tim favorit saya adalah Arsenal,” kata Mkhitaryan, saat masih bermain untuk klub kampung halamannya di Pyunik lebih dari satu dekade yang lalu. “Saya suka gaya main mereka yang menyerang dan cepat. Apalagi Arsene Wenger menaruh kepercayaan pada pemain muda dan menuntut hasil pada saat yang bersamaan. Saya suka itu dan ingin bermain di sana suatu hari nanti.”

Mampu bermain di Liga Europa untuk Arsenal dan bersiap untuk menjalin hubungan nostalgia dengan mantan rekan setimnya di Dortmund, Pierre-Emerick Aubameyang, dalam beberapa hari mendatang, segalanya serasa sudah ditakdirkan untuk Mkhitaryan – penggemar Arsenal yang mengaku telah berhasil mencapai apa yang dia inginkan.

Ketika ditanya apakah ada harapan setelah kepergian Alexis Sanchez usai kemenangan atas Crystal Palace akhir pekan lalu, ada respons yang sangat tepat dari Wenger, yang sudah tahu betul bahwa Arsenal telah mendapatkan pemain cerdik yang memiliki otak tajam dan mematikan lapangan.

“Selalu ada kehidupan,” katanya.

“Klub sepakbola Arsenal berusia 130 tahun dan banyak pemain besar telah pergi. Apakah akan memburuk? Kita lihat, namun selalu ada kehidupan sesudahnya. ”

 

sport-detik.com | Berita Bola, Prediksi Bola, Hasil Pertandingan, Jadwal Pertandingan, Skor Bola, Klasemen dan Transfer Pemain
Sumber : Goal.com ID

Pos Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *