Kontrasnya Impotensi Chelsea & Dominasi Manchester City

The Blues musim lalu finis 15 poin di depan The Citizens, tapi musim ini situasinya berbalik bahkan dengan selisih poin lebih banyak yakni 25 poin.

Ketika Chelsea mengalahkan Manchester City di Etihad Stadium pada Desember tahun 2016 lalu, pasukan Antonio Conte menyegel keunggulan tujuh poin atas para rival dan melanjutkan perjalanan ke tangga juara Liga Primer Inggris. Tapi Minggu (3/3) kemarin, dominasi City membuat kini ada perbedaan 25 poin lebih banyak dari sang juara bertahan.

Perbedaannya yang memisahkan kedua tim, dalam waktu yang cukup singkat, sungguh luar biasa. Chelsea, yang memenangkan titel dalam musim debut Conte, saat ini benar-benar menyedihkan. Sementara City, memang belum berada di posisi terbaik mereka, memang tidak harus begitu.

Klub asal London, yang menjawab segalanya dengan penampilan musim lalu, tidak menawarkan permainan apa-apa selain bertahan total. Mereka cenderung ‘memarkir bus’ dan tidak membatasi ruang kreasi para pemain City. Masalahnya adalah sama sekali tak menciptakan peluang bagi mereka sendiri.

Mereka gagal melakukan satu pun tembakan ke arah gawang lawan di babak pertama – kali perdana sejak Opta merekam data dan statistik pada 2003 – dan terlalu sering melakukan hal yang sia-sia. Eden Hazard diterapkan sebagai false nine, tapi tidak bersinar sama sekali. Lebih dari sekali sang pemain dibuat keheranan dengan pola umpan-umpan panjang yang tak memanjakannya.

Chelsea seperti tak punya rencana penyerangan dan itu bukan yang pertama mereka lakukan musim ini. Sama seperti performa lawan Barcelona di Liga Champions, tapi beruntung masih ada beberapa percobaan tendangan jarak jauh Willian.

Kekurangan dalam gairah menyerang bukan hal baru bagi mereka dan itulah yang menyebabkan mereka kemungkinan besar akan tersisih dari persaingan finis dalam posisi empat besar klasemen.

Jika mengingat dominasi besar mereka saat menjadi juara musim lalu, penurunan performa yang mereka tampilkan sekarang ini benar-benar mengejutkan.

Conte tentu akan fokus membenahi tim pada musim panas nanti dan ikut arus transfer pemain, tapi sekali lagi pasukan asal London tersebut akan melihat tim mereka sama seperti yang dilihat fans City sejauh ini: sebagai tim hebat semusim, dan kehabisan bensin pada musim berikutnya.

Hanya saja, bagi City, pengalaman semacam itu sepertinya akan menjadi masa lalu, tentunya itu bergantung pada kualitas manajerial Pep Guardiola apabila masih jauh dari batas akhir.

Sekarang mereka semua punya jawaban atas keraguan musim lalu.

Bahkan jika Chelsea berjuang mati-matian di sisa musim ini, tipis kemungkinan bagi mereka untuk bisa merasakan momen mengangkat trofi juara Liga Primer lagi.

City muncul sebagai tim yang jauh lebih bagus di Inggris dan apabila Guardiola bisa fokus penuh pada rencana belanja musim panas nanti, maka akan sulit bagi siapa pun untuk mendekati jurang perbedaan kualitas yang sudah dirancang klub asal Manchester tersebut.

Musim lalu Conte mendapat kredit kala mampu menjinakkan sepakbola Inggris dengan taktik tiga bek serta skema serangan balik efektif yang biasa diterapkannya, sedangkan Guardiola menjalani musim debut yang sangat sulit kala belum menyatu dengan komponen pendukungnya.

Musim pertamanya di Etihad Stadium dijalani tanpa prestasi apa pun dan hal itu membuat banyak pihak sempat meragukan kapasitasnya.

Laga melawan Chelsea pada Desember 2016 lalu menjadi salah satu sorotan yang menggambarkan masalah City.

Saat itu, City mendominasi pertandingan tapi gagal menyelesaikan setiap peluang yang mereka dapatkan dan Chelsea tampil efektif hingga mampu membombardir gawang Claudio Bravo dengan tiga gol.

Guardiola bersikeras timnya layak mendapatkan kemenangan pada hari itu, dan apakah benar atau tidak hasilnya baru terasa sekarang ini ketika sang manajer asal Catalunya memberi pembuktian.

Momen kurang bagus pada musim lalu, sekarang sudah menjadi masa lalu.

Mereka sudah melewati titik untuk memberi pembuktian pada siapa saja yang meragukan, paling tidak dengan performa di liga saat ini, mereka memimpin klasemen dengan keunggulan 16 poin di puncak. Mungkin memang mereka melakukan investasi uang, tapi dominasi mereka benar-benar terasa saat membekuk Chelsea pada akhir pekan kemarin.

City sama sekali tak membiarkan Chelsea bernapas ketika mereka melakukan penguasaan bola dan ketika mendapatkan kembali bola mereka bersabar dalam merancang tekanan. Struktur permainan mereka sungguh mampu memimimalisir gaya bermain Chelsea yang mengandalkan serangan balik seperti musim lalu.

Sederhananya, Chelsea seperti tampil tidak semestinya. City melakukan permainan yang sudah kerap mereka lakukan sepanjang msuim ini dan kini mereka sudah siap untuk berpesta merayakan kesuksesan di saat Chelsea gagal, dan kemungkinan besar mereka bisa konsisten melakukannya untuk beberapa tahun ke depan.

 

sport-detik.com | Berita Bola, Prediksi Bola, Hasil Pertandingan, Jadwal Pertandingan, Skor Bola, Klasemen dan Transfer Pemain
Sumber : Goal.com ID

Pos Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *