Rapuhnya Pertahanan Liverpool dan Mental Juara MU dalam Pertanyaan

Liverpool kembali mendapat hasil tidak memuaskan, bahkan menyakitkan ketika menghadapi Tottenham, Minggu (22/10) kemarin di Wembley Stadium. Dalam pertandingan tersebut, Liverpool harus menyerah dengan skor 4-1.

Lini pertahanan Liverpool kembali menjadi sorotan. Bahkan bukan lagi disorot, tapi banyak mendapat hujatan dari pendukungnya sendiri.Bagaimana tidak, ketika menghadapi Tottenham, gawang Liverpool sudah kebobolan dua gol ketika pertandingan baru berjalan 12 menit.

Dua gol pertama dalam pertandingan tersebut menunjukkan kerapuhan yang sangat parah di lini belakang Liverpool. Gol pertama yang dicetak oleh Harry Kane, bermula dari kesalahan Dejan Lovren yang kurang fokus menjaga pemain lawan. Ia gagal mengantisipasi pergerakan Kane sehingga penyerang Tottenham tersebut bisa terbebas dari jebakan offside setelah menerima umpan dari Kieran Trippier sebelum membobol gawang Simon Mignolet.

Kesalahan lini belakang Liverpool kembali terjadi dalam proses gol yang kedua, bahkan lebih parah. Aktor utamanya tetap Lovren, meskipun seluruh pemain Liverpool juga bertanggung jawab atas ini semua. Gawang Liverpool kembali kebobolan pada menit 12 hanya dengan dua sentuhan setelah Hugo Lloris melemparkan bola ke depan. Kane yang mendapatkan bola dari penjaga gawang, setelah Lovren gagal menghalau bola atas, langsung memberikan umpan  silang ke dalam kotak penalti. Sentuhan pertama Heung-Min Son berbuah gol kedua untuk Spurs.

Setelah dua gol tersebut, beberapa kali gawang Liverpool mendapat ancaman serius, salah satunya tembakan Heung-Min Son yang mengenai tiang gawang tak lama setelah gol kedua. Singkat cerita, pertandingan ini berakhir untuk kemenangan Tottenham dengan skor 4-1 meskipun Mohamed Salah sempat memberi harapan bangkit.

Usai menjalani pertandingan, pelatih Liverpool Jurgen Klopp, mengakui bahwa pertahanan timnya sungguh sangat buruk. Ia menyesalkan performa timnya. Ia menilai semua gol Tottenham tak seharusnya terjadi karena sebenarnya bisa diatasi dengan sederhana. Dan ketika pertandingan berjalan, Klopp  juga sudah tak tahan melihat performa Lovren sehingga ia ditarik keluar ketika pertandingan baru berjalan sekitar setengah jam.

“Jika saya terlibat di situasi seperti itu di lapangan, maka Harry tidak akan mendapatkan bola. Semua situasi itu sebenarnya bisa diatasi. Pertahanan kami yang sangat buruk,” ucap Klopp setelah pertandingan selesai.

Liverpool Sering Kebobolan

Masalah bapuknya pertahanan Liverpool ini bukan terjadi dalam satu pertandingan ini saja, atau ketika menghadapi Spurs. Pada pertandingan sebelumnya, pasukan Klopp juga sering mengalami kebobolan. Sampai pada pekan sembilan Premier League ini, Liverpool sudah kemasukan 16 gol. Jumlah tersebut membuat klub asal Merseyside tersebut menjadi tim kelima paling sering kebobolan di Liga Inggris musim ini.

Liverpool tercatat hanya tiga kali sukses menjaga gawangnya tidak kebobolan. Pertama ketika menghadapi Crystal Palace, kemudian saat bertemu dengan Arsenal. Yang terakhir, gawang Liverpool selamat dari kebobolan saat menjamu Manchester United di Anfield. Dan, ya, semua catatan clean sheet tersebut semuanya terjadi ketika tampil di kandang sendiri.

Jika Palace tak sanggup membobol gawang Liverpool itu adalah sesuatu yang wajar. Pasalnya, tim berjuluk The Eagles tersebut sedang mengalami penurunan performa drastis musim ini. Sejak awal musim bergulir, mereka tak pernah mencetak sebiji gol pun, kecuali akhirnya mematahkan rekor buruk tersebut ketika menang secara mengejutkan 2-1 atas Chelsea di pekan kedelapan kemarin.

Arsenal juga punya masalah sendiri sebelum menghadapi Liverpool pada pekan ketiga, yang sebelumnya sudah kalah dari Stoke City. Lagi pula, klub asal London tersebut bukan jajaran klub favorit untuk menjuarai Premier League musim ini. Bahkan musim lalu, The Gunnershanya berada di peringkat lima, di bawah Liverpool, yang akhirnya membuat tim asuhan Arsene Wenger tidak bisa bermain di Liga Champions musim ini.

Mental Juara MU Masih Lemah

Sementara itu Manchester United bermain apik sejak awal musim ini meskipun musim lalu mengakhiri musim di peringkat enam. Mereka juga cukup produktif mencetak gol (22 di Premier League) setelah mendatangkan Romelu Lukaku dari Everton dan mendapatkan gelandang handal Nemanja Matic dari Chelsea. The Red Devils tak pernah kalah sejak awal musim ini hingga akhirnya kalah pada akhir pekan lalu saat menghadapi Huddersfield. Namun kekalahan tersebut tak mengubah posisi mereka di peringkat dua klasemen sementara.

Sangat disayangkan, ketika bertemu Liverpool pada pekan kedelapan, pasukan Jose Mourinho hanya berani mencari aman dengan cara bermain bertahan. Memang tidak ada salahnya dengan taktik tersebut karena dalam sejarahnya, MU memang sulit mendapat kemenangan di Anfield.

Namun melihat masalah lini belakang Liverpool musim ini, MU seharusnya lebih berani mengambil inisiatif menyerang sajak menit awal seperti yang dilakukan Tottenham jika berharap sebagai penantang gelar sejati. Namun hal itu tak terjadi ketika MU bertemu dengan Liverpool. Hasilnya, MU harus puas membawa pulang satu poin setelah pertandingan berakhir imbang 0-0.

Dalam pertemuan tersebut, MU tercatat hanya satu kali melepas tembakan tepat sasaran ke gawang Liverpool. Di dalam penguasaan bola, MU juga kalah dari kubu Klopp yang hanya menguasai bola sebanyak 43 persen. MU hanya bermain aman sembari menunggu untuk melakukan serangan balik jika terdapat kesempatan. Padahal di atas kertas, MU memiliki skuat lebih baik dibandingkan dengan Liverpool atau dengan Tottenham..

Kegagalan MU memetik poin penuh dari kandang Liverpool dan disusul kekalahan lawan Huddersfield membuat mereka kini berjarak lima poin dari Manchester City yang menduduki peringkat pertama. Dalam perebutan gelar musim ini sepertinya tak cukup bagi MU sekedar bermain aman.

Manchester City Kandidat Kuat untuk Juara

Sementara itu di kubu asuhan Josep Guardiola begitu garang dalam setiap pertandingan musim ini. Klub yang identik dengan warna biru langit tersebut belum pernah kalah sejak awal musim ini di Premier League, mereka hanya sekali mendapat hasil imbang yaitu saat menghadapi Everton.  Partai besar yang sudah terlewati di antaranya menghadapi Chelsea dan Liverpool, City selalu menang: menang 0-1 di Stamford Bridge dan menang 5-0 atas Liverpool di Etihad Stadium. Dan yang mengerikan lagi, The Citizens telah mengumpulkan 32 gol sepanjang musim ini di liga domestik.

Satu-satunya hasil kurang maksimal Man City yaitu ketika menghadapi Everton. Hasil akhir dalam pertandingan tersebut bisa dikatakan sebagai hasil yang cukup menguntungkan bagi The Toffees. Sebab, sepanjang pertandingan, City terus memberikan tekanan pada lawan. Padahal sejak menit 44, City bermain dengan 10 poin setelah Kyle Walker mendapat kartu merah.

Untuk mengejar gelar juara musim ini sepertinya Manchester United memang tak cukup bermain pragmatis dan hanya mencari aman ketika menjalani partai-partai besar. Mereka perlu punya tekad kuat dan jiwa superior untuk memetik kemenangan di setiap pertandingan dengan mengedepankan sepakbola menyerang pada setiap pertandingan seperti yang ditunjukkan City sejauh ini.

 

sport-detik.com | Berita Bola, Prediksi Bola, Hasil Pertandingan, Jadwal Pertandingan, Skor Bola, Klasemen dan Transfer Pemain
Sumber : Bola.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *